1) Inti konsep VLSM
VLSM adalah teknik subnetting di mana subnet dalam satu jaringan (prefix) boleh memiliki panjang mask berbeda-beda. Tujuannya: mengalokasikan alamat IP secara efisien sesuai kebutuhan jumlah host tiap subnet — tidak semua subnet harus sama besar.
2) Mengapa pakai VLSM?
-
Mengurangi pemborosan alamat IPv4.
-
Memungkinkan desain topologi yang lebih fleksibel (mis. VLAN dengan ukuran berbeda).
-
Memungkinkan agregasi rute (CIDR) ketika cocok.
-
Perlu dukungan routing classless (RIPv2, OSPF, EIGRP, BGP). RIPv1 tidak mendukung VLSM.
3) Konsep dasar/aturan penting
-
Prefix ditulis sebagai /n (contoh /24, /26).
-
Jumlah alamat total dalam subnet = .
-
Jumlah host yang bisa dipakai (untuk sebagian besar subnet) = (satu alamat network + satu broadcast).
-
Contoh khusus: /31 (RFC 3021) dapat dipakai sebagai link point-to-point (2 alamat, tidak menggunakan broadcast), /32 menunjukkan satu alamat tunggal (mis. loopback).
-
-
Alokasi: urutkan kebutuhan dari terbesar → terkecil (best practice) agar tidak "mencacah" ruang alamat dan mempermudah perhitungan.
4) Tabel referensi cepat (umum dipakai)
Perhitungan ditunjukkan langkah demi langkah (aritmetika digit-per-digit):
-
/24 : host bits = 32 - 24 = 8.
.
usable hosts = . -
/25 : host bits = 32 - 25 = 7.
.
usable hosts = . -
/26 : host bits = 32 - 26 = 6.
.
usable hosts = . -
/27 : host bits = 32 - 27 = 5.
.
usable hosts = . -
/28 : host bits = 32 - 28 = 4.
.
usable hosts = . -
/29 : host bits = 32 - 29 = 3.
.
usable hosts = . -
/30 : host bits = 32 - 30 = 2.
.
usable hosts = .
5) Cara menghitung blok / increment (aturan praktis)
Subnetting sering dipakai pada boundary octet terakhir yang berubah. Block size (inkremen alamat) di octet yang relevan = .
Contoh: /26 → mask = 255.255.255.192. Nilai octet mask terakhir = 192.
Block size = . → Subnet increment = 64 (0,64,128,192).
Untuk /28 → mask terakhir 240 → → increment 16 (0,16,32,...).
6) Contoh lengkap — alokasi VLSM dari 192.168.1.0/24
Kebutuhan jaringan (misal):
-
A: 100 host
-
B: 50 host
-
C: 12 host
-
D: 2 host
-
E: 2 host
Langkah 1: Urutkan dari terbesar ke terkecil → 100, 50, 12, 2, 2.
Langkah 2: Tentukan prefix minimal untuk tiap kebutuhan (langkah aritmetika digit-per-digit):
-
Untuk 100 host: perlu alamat total. Cari .
-
(kurang).
-
(cukup).
→ host bits = 7 → prefix = 32 - 7 = /25. usable hosts = .
-
-
Untuk 50 host: perlu .
-
(kurang).
-
(cukup).
→ prefix = /26 (62 usable).
-
-
Untuk 12 host: perlu .
-
(kurang).
-
(cukup).
→ prefix = /28 (14 usable).
-
-
Untuk 2 host: perlu .
-
→ prefix = /30 (2 usable).
-
-
Kedua 2-host lainnya juga /30.
Langkah 3: Alokasikan alamat secara berurutan dari network base 192.168.1.0/24.
a) Subnet A → /25 (block size 128; increment 128 karena mask oktet = 128)
-
Network: 192.168.1.0/25
-
Rentang alamat total: 192.168.1.0 — 192.168.1.127
-
Broadcast: 192.168.1.127
-
Usable host: 192.168.1.1 — 192.168.1.126 (126 host)
b) Sisa ruang setelah itu: 192.168.1.128 — 192.168.1.255 (/25 kedua)
c) Subnet B → /26 (block size 64) menggunakan awal sisa ruang:
-
Network: 192.168.1.128/26
-
Rentang total: 192.168.1.128 — 192.168.1.191
-
Broadcast: 192.168.1.191
-
Usable host: 192.168.1.129 — 192.168.1.190 (62 host)
d) Sisa ruang: 192.168.1.192 — 192.168.1.255 (64 alamat)
e) Subnet C → /28 (block size 16) dari sisa:
-
Network: 192.168.1.192/28
-
Total: 192.168.1.192 — 192.168.1.207
-
Broadcast: 192.168.1.207
-
Usable: 192.168.1.193 — 192.168.1.206 (14 host)
f) Sisa ruang: 192.168.1.208 — 192.168.1.255 (48 alamat)
g) Subnet D → /30 (block size 4):
-
Network: 192.168.1.208/30
-
Total: 192.168.1.208 — 192.168.1.211
-
Broadcast: 192.168.1.211
-
Usable: 192.168.1.209 — 192.168.1.210 (2 host)
h) Subnet E → /30 (next block):
-
Network: 192.168.1.212/30
-
Total: 192.168.1.212 — 192.168.1.215
-
Usable: 192.168.1.213 — 192.168.1.214
i) Sisa ruang setelah alokasi: 192.168.1.216 — 192.168.1.255 (40 alamat) dapat digunakan untuk growth atau subnet lebih kecil.
7) Cara menentukan broadcast / network dan increment (contoh biner singkat)
Ambil /26 sebagai contoh:
-
Mask /26 = 255.255.255.192
Oktet terakhir 192 → biner: 1100 0000
Host bits = 6 → biner host bagian = 00 0000 (untuk network) sampai 11 1111 (untuk broadcast).
Increment = : 0, 64, 128, 192.
Untuk /28:
-
Mask /28 = 255.255.255.240
Oktet terakhir 240 → → increment 16 (0, 16, 32, ...).
8) Implementasi pada perangkat (contoh Cisco IOS)
Contoh konfigurasi singkat:
Routing: pakai routing classless. Contoh RIPv2:
(atau gunakan OSPF/EIGRP untuk skala lebih besar).
9) Rekomendasi perencanaan & best practices
-
Selalu alokasikan dari besar → kecil.
-
Sisakan blok cadangan untuk pertumbuhan.
-
Gunakan dokumentasi IP (spreadsheet) yang jelas: network, prefix, gateway, usable range, broadcast, tujuan (VLAN/ruang).
-
Gunakan routing classless; matikan auto-summary pada RIPv2 (
no auto-summary). -
Hindari discontiguous networks (potongan jaringan yang sama tetapi terpisah oleh router lain tanpa summarization) karena bisa menyebabkan masalah routing.
-
Pertimbangkan penggunaan /31 untuk link point-to-point jika perangkat dan perangkat lunak mendukungnya (hemat alamat).
10) Pitfalls / hal yang harus diwaspadai
-
Menggunakan RIPv1 (classful) akan merusak VLSM karena RIPv1 tidak menyampaikan prefix length.
-
Salah menghitung increment atau tidak mengalokasikan dari terbesar menyebabkan fragmentation dan pemborosan alamat.
-
Lupa reserve alamat untuk gateway (biasanya alamat pertama setelah network atau terakhir sebelum broadcast, tergantung kebijakan).
-
Tidak mendokumentasikan hasil alokasi → kebingungan dan konflik IP.
11) VLSM vs CIDR (perbedaan singkat)
-
VLSM: teknik subnetting pada satu network untuk membuat berbagai ukuran subnet.
-
CIDR: cara mengekspresikan agregasi rute dan memecah batasan kelas (classless addressing). Mereka terkait: VLSM bekerja dalam kerangka classless dan CIDR memungkinkan agregasi rute hasil VLSM.
12) Contoh ringkas lagi (konversi biner untuk satu subnet)
Ambil 192.168.1.192/28:
-
Oktet terakhir network = 192 → biner: 1100 0000
-
Mask /28 di oktet terakhir = 1111 0000
-
Network bits (last octet): 1100 0000 & 1111 0000 = 1100 0000 (192) → ok.
-
Broadcast terakhir octet: network last octet + (block size -1) = 192 + (16 - 1) = 192 + 15 = 207.
13) Troubleshooting singkat
-
Jika subnet overlap: periksa mask dan network boundary (gunakan block increments: 4, 8, 16, 32, 64, 128).
-
Jika route tidak muncul: periksa apakah routing protocol classless dan apakah ada summarization yang memecah prefix.
-
Gunakan
show ip route,show ip interface brief,ping&tracerouteuntuk debugging.
14) Ringkasan (takeaway)
-
VLSM = subnet berbeda-besar dalam satu network → efisien.
-
Alokasikan dari besar → kecil.
-
Hitung host bits dengan (tunjukkan perhitungan).
-
Butuh routing classless (RIPv2/OSPF/EIGRP/BGP).
-
Dokumentasi & cadangan ruang sangat penting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar